Malasitive

October 6th, 2006 by anak-yang-aneh

Akhir
akhir ini, sayah mengalami gejala upside down life day syndrome. Yg
menurut kamus psikolohi adalah keadaan dimana siklus waktu hidup
seseorang menjadi terbalik/bertukar. Klo org normal…sebut saja
bangun dan berkegiatan dr pukul 6 pagi dan tidur sekitar pukul 10
malam, penderita syndrome ini sebaliknya. Bangun dan berkegiatan
pukul 10 malam lalu tidur pukul 6 pagi. Sayah sendiri akhir2
ini…mengalami siklus seperti ini: tidur pukul 6 pagi, dan bangun
pukul 6 sore.

Memiliki
waktu hidup yg tidak normal adalah sungguh menyebalkan adanyah. Sayah
sendiri merasa seperti org tidak hidup saat mengalami syndrome ini.
Tidur dgn waktu yg tidak normal apalagi dgn jangka waktu yg tidak
normal pula sunggguh menyiksa sayah. Seperti org bego, ga ada
kerjaan, tidak produktif, dan yg paling parah…kadar malas sayah
tentu saja bertambah.

Walalupun
menguntungkan dr segi menahan haus dan lapar (mengingat bulan ini
adalah bulan ramadhan), tidur dr adzan ke adzan selama 12 jam adalah
aktivitas yg sungguh menjengkelkan. Mungkin semenjengkelkan aktivitas
buang air besar selama 4 jam. Mengingat sayah adalah tipe manusia
aktif…tidur selama 12 jam rasanya seperti membuang buang waktu
sayah yag berharga. Namun, muncul pertanyaan besar disini: jika hal
tersebut sangat menyiksa, menjengkelkan, dan tidak menyenangkan
kenapa tetap sayah lakukan?

Di
ilmu psikolohi jg ada istilah self denying (bahasa indonesianya adlah
penolakan diri). Mungkin apa yg sayah lakukan ini merupakan salah
satunyah. Kewajiban sayah yg bertumpuk (mengingat sayah tipikal org
berprinsip: klo bisa dikerjakan esok hari, ngapain jg mesti dikerjain
sekarang?),  membuat sayah tambah malas. Bukannya sadar akan
tanggung jawab sayah, sayah malah lari darinyah.

Memang
sodara sodara, penyakit malas adalah penyakit kejiwaan yg
membahayakan. Apalagi buat sayah yg sudah memasuki fase sgt parah.
Saking parahnya sayah sering berkomentar: males ah males2an
terus…cape.  Tuh kan!!! Sayah bisa saja malas untuk malas
(frase ini mungkin membingungkan untuk beberapa org yg memiliki
kemampuan berbahasa rendah). Lalu bagaimana dong solusinyah buat org2
malas seperti sayah dan anda yg jg malas untuk tidak menjadi malas
dan semakin malas hingga sampai di tahap malas yg amat sangat
keterlaluan parah banget sekali pisan (tahap malas plg parah…klo
kanker stadium lima lah kira2)???

Saran
sayah untuk sayah sendiri  dan org2 malas lain seperti sayah,
belajarlah konsep tanggung jawab dan kesadaran akan hak dan
kewajiban. Buat anda yg baru berencana untuk menjadi org
malas…sayah sarankan buang jauh2 pikiran itu dr dalam kepala dan
hati anda sebelum anda menjadi seperti sayah dan org2 malas lainnyah.
Karena sesal selalu dtg belakangan, klo yg duluan dtg niat namanya.
Dan isitilah to prevent is better than to cure/fix memang benar
adanyah.

Karena
menggurui diri sendiri adalah baik, dan menggurui org lain tidak jauh
lebih baik. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Guru kencing
berlari, murid kencing berlari marathon. Guru kencing berlari
marathon, murid kencing triathlon.

Be
responsible, be positive thinking, be open minded. Baca terus blog
sayah untuk pelajaran2 ga penting tp “iya jg yah…” lainnyah!!!

Sun
basah…

Toleransionare

September 18th, 2006 by anak-yang-aneh

Sayah
termasuk org yg sabar (itu menurut sayah dan pacar sayah). Org yg
knal sayah sudah dipastikan tidak pernah melihat sayah dalam keadaan
marah, kesal, pundung, ketus dan keadaan keadaan non sabar lainnya.
Dan menurut pengalaman bersabar sayah, menjadi sabar itu menyenangkan
dan memberi sayah banyak keuntungan. Sayah jd ga usah cape marah2,
cape ketus, cape ngomel, cape ngedumel dalam hati, ataupun cape
pupundungan. Yaaa…plg cmn cape sabar aja sih (nah loh!!!), itu jg
jarang bgt. Eh tp klo ini beneran: ketika kita sabar kita menempatkan
diri beberapa derajat lebih baik daripada org yg kita beri kesabaran.
Istilahnya (masih menurut sayah dan pacar sayah) orang sabar itu
memiliki banyak kelebihan dibanding or yg ga sabaran.

Lagian
kata kitab suci agama sayah: tuhan sayahng ama org yg sabar.
Yaaa…asal jgn terlalu berlebihan aja sabrnya. Selain karena (masih
kata kitab suci agama sayah) tuhan ga suka ama org2 yg melampaui
batas, org2 yg terlalu sabar seringkali dijadikan sebagai objek
penindasan (lihat saja sayuti di sitkom OB yg tayang di salah satu tv
swasta nasional dgn inisial r belkangnya i di tgh2nya ada ct nya).
Eits, tp untuk yg terakhir ini sih menurut pengamatan sayah aja sih
:D. Klo udh gini muncul sebuah pertanyaan: gimana dong caranya supaya
jd sabar tp ga jd org yg terlalu berlebihan sabarnya???

Sabar
itu seni (kemarin sayah habis jalan di sebuah toko buku agung di
ciwalk, lalu sayah melihat sebuah buku psikologi populer yg berjudul
“seni bersabar”. Berarti sabar itu seni bukan??? Walaupun
akhirnya di toko buku tsb sayah tdk membeli buku tsb karena uang
sayah terlanjur habis membeli majalah favorit sayah: FHM). Ga gampang
jd org sabar. Butuh keseimbangan emosi, kelurusan pola pikir,
rasionalitas dan logisitas berpikir yg tinggi, pikiran yg terbuka
serta sikap positif thinking. Ribet kan??? Karena ribet akan sayah
singkat saja semua unsur tersebut ke dalam satu kata benda yg disebut
“toleransi”. Yup, toleransi adalah kunci bersabar (semua unsur di
atas td sebenernya hanya gagayaan sayah aja sih…biasa lah), kadar
toleransi kitra mempengaruhi kadar kesabaran kita. Ketika kita
dihadapkan oleh hal2 yg memang sdh di luar batas kesabaran kita, sah2
aja klo kita milih untuk ga bersabar. Trus gimana dgn org2 yg hanya
memiliki batas toleransi yg rendah (yg sering sayah sebut sebagai
org2 yg picik)??? Apa sah2 aja org tsb ga sabar karena kadar
toleransinya yg rendah???

Di
dunia ini ada hal2 general, hal2 umum yg bersifat universal. Dan hal2
ini seringkali disebut hal2 relatif (lihat tulisan “dangkalicious”).
Begitu jg dgn toleransi. Ada toleransi relatif, dimana toleransi di
bawah toleransi relatif disebut toleransi cenderung negatif sedangkan
toleransi di atas toleransi relatif disebut toleransi cenderung
positif (baca lg pemahaman “cenderung” menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia).

Intinya,
apapun valensi toleransi anda…sebenarnya toleransi itu bisa dilatih
menjadi toleransi realtif (at least mendekati lah ya???). Soalnya ah
cape deh jg menjadi org yg terlalu berlebihan sabarnya ataupun
menjadi org picik berpikiran sempit ga sabaran. Makanya mari latih
toleransi kita. Soalnya jg…klo kita bernostalgia kembali ke bangku
SD, dimana kita akan bertemu pdgn pelajaran PMP a.k.a PPKn, kita akan
menemukan sebuah teori bahwa: toleransi dan tenggang rasa adalah hal
yg sangat dibutuhkan dlm kehidupan berkelompok, bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara (Toleransi dianggap sama dgn tenggang rasa,
karena saat kita bertoleransi kita psti bertenggang rasa. Begitu jg
sebaliknya. Dan toleransi yg dimaksud tentu saja toleransi relatif yg
sdh dibahas sebelumnya). Dan menurut sayah teori ini sdh terbukti dg
amat sahihnya. Soalnya banyak dr kita sdh melupakan konsep toleransi
(terutama kalian org2 picik berpikiran sempit, mebusuklah kalian di
neraka!!!). lihat aja kondisi bangsa kita skg ini. Kerusuhan,
keributan, kejahatan, kekerasan terjadi setiap hari. Yup, mungkin
bayak dr kita yg lupa nilai dasar hidup sosial itu adalah toleransi.

Sayah
tidak mencoba menjadi bijak disini (karena org bijak taat pajak.
Sedangkan sayah bayar bubur ayan quantum saja sayah sering lupa).
Sayah cmn nyoba ngingetin aja klo toleransi itu adalah hal yg
meneyenangkan (walau kadang ga efisien). At least toleransi membuat
kita jadi manusia yg lebih baik lah…dan kyanya kondisi negara kita
saat ini membutuhkan banyak manusia2 baik.

Sekali
lagi relativitas adalah jawaban dr banyak pertanyaan ttg hidup.
Karena hidup adalah relativitas. Hanya tuhan yg mutlak…sisanya
tidak

Sun
basah…

Observasistic

September 12th, 2006 by anak-yang-aneh

Seorang seniman kurang terkenal (atau mungkin tepatnya kurang saya kenal, sehingga saya lupa namanya) pernah berujar: “Perihal seni adalah perihal kemampuan observasi” (kurang lebih begitu katanya). Nah, menyangkut hal ini (observasi), saya adalah termasuk tipikal orang yang sangat senang melakukan observasi. Mulai dari mengobservasi manusia sebagai individu komplit (muka, kelakuan, style fesyen, pola pikir, gaya bicara, tingkat intelektual, dll.), tren (fesyen, musik, film, gaya bahasa, dll.), alam semesta (kadang saya sering menemukan aksioma2 ga penting yang saya percaya benar adanya :D,contoh:aksioma saya tentang megamainastar alias bintang utama alam raya yang mengatur semua pergerakan tata surya yang ada, dll.), sampai hal2 yang lebih kecil tapi ga penting seperti misalnya bongkahan batu di jalan atau bentuk kotoran hidung saya (warna,bentuk,tingkat kelembaban,dan kandungan zat2 lainnya bebeda beda tergantung kondisi tubuh saya dan cuaca).

Yup, inilah saya. Manusia pengobservasi (kalo bahasa Inggrisnya observer, tapi dalam bahasa Indonesia adalah pengamat). Entah kenapa, saya sangat menyukai hal ini. Dan perlu anda ingat, bahwa kemampuan mengobservasi seseorang biasanya sangat tergantung juga kepada basis data dan atau teori seseorang tersebut untuk melakukan analisa atau observasi, atau tidak. Maksud saya disini, ketika anda mengobservasi sesuatu yang memang anda ingin ambil kaidah keilmuannya, tentu saja anda harus memiliki basis data dan atau teori yang pernah ada tentang hal yang anda obervasi tersebut. Tapi kalau observasi anda hanya just for fun…ngapain juga pake basis data atau teori segala (contoh: observasi saya tentang kotoran hidung, dan saya yakin kalau analisa saya tidak jauh berbeda dengan kajiuan keilmuan tentang kotoran hidung).

Tapi merunut pada ujaran sang seniman kurang terkenal tersebut (singkat saja menjadi skuter), apakah dengan melakuakan banyak observasi apakah saya sudah melakukan kegiatan berkesenian? Soalnya menurut saya dan pasti para seniman di luar sana setuju bahwasanya sebuah kegiatan berkesenian mau tidak mau menuntut adanya (pembuatan) karya. Eh bener ga sih? (Saya mohon komentar ahli soal statement saya ini). Tapi bukan itu inti tulisan saya (terus kenapa juga paragraf ini saya tulis? Sebenarnya hanya untuk memamerkan kemampuan ber-sok tahu ria saya yang terpercaya itu), tidak lain saya hanya ingin melakukan penilaian absurd tentang hobi saya mengobservasi dengan kemampuan pelayanan curhat saya (kalau anda teman dekat atau klien curhat saya anda pasti mengerti maksud saya pada poin ini).

Siapapun anda di luar sana yang senang berobservasi pasti setuju pada aksioma saya ini: Ketika kita melakukan observasi kita dituntut untuk lebih adil dan bijaksana. Alasannya, saat melakukan observasi kita diharuskan untuk menilai kembali banyak hal yang terkait pada hal yang kita observasi (sebut saja objek), tidak hanya menurut pada kehendak awal atau penilaian awal kita saja, tapi sekali lagi kita dituntut untuk memberikan penilaian yang fair terhadap objek dari berbagai sisi (baik itu keilmuan maupun ketidakilmuan).

Untuk hal tersebut di atas, jelas bahwa urusan ego memang harus sedikit dikesampingkan (karena ego tidak mungkin dihilangkan). Nah inilah inti tulisan saya ini: Ketika kita bisa mengobservasi dengan baik jelas bahwa kita secara tidak sadar telah melakukan perbuatan mengesampingkan ego sehingga penilaian kita terhadap segala sesuatu akan menjadi (lebih) fair. Setuju kah anda?

Yang jelas sih (masih menurut saya), orang2 dangkal (sudah pasti) tidak memiliki kemampuan mengobservasi segala sesuatu dengan baik (lihat tulisan saya sebelumnya).

Sun basah…

Dangkalicious

September 12th, 2006 by anak-yang-aneh

akhir2 ini sayah banyak sekali ketemu orang2 berpikiran dangkal yg dgn pemikirannya sayah sering dibuat mual.klo kamu bertanya pada sayah:"apa itu orang dangkal?".sayah akan menjawab:"orang dangkal itu orang yang hidup seadanya".maksudnya…pola pikir dan kelakuannya selalu seadanya,hanya berdasarkan apa yang ia rasakan dan ia pikirkan(kalau dia punya pikiran)tanpa berdasar referensi lain yang mungkin lebih sahih atau relatif lebih mendekati kebenaran(karena didasarkan fakta,analisa,dll).

jadi orang yang bagaimana sih yang sebenarnya termasuk orang yang dangkal???gampangnya sih…klo ada orang di sekitar anda yang kelakuannya menyebalkan,ngomong selalu seenaknya,suka ngejudge org tanpa alasan kuat,pola pikirnya terlalu seadanya dan cenderung egois dan seenaknya…hey…anda sah untuk men-cap orang itu sebagai orang yang dangkal!!!tp sebenernya sih pertanyaan yg paling penting dr semuanyah adalah:"apakah anda termasuk orang yg dangkal dengan men-cap orang lain sebagai org yg dangkal???".tunggu jawabannya di pembahasan sayah selanjutnya tentang masalah ini…

einstein pernah bilang:"kebenaran itu relatif,dan hukum relatifitas itu sendiri adalah e=m.c2".sedangkan oka si rapper pernah bilang:"a-ku=em-ce(semenjak es-de)"

sun basah…